Labuha – Harita Nickel berencana meluncurkan buku berjudul “Keindahan Laut Pesisir Barat Pulau Obi – Seri I Ikan Karang: Mosaik Kehidupan Laut yang Memikat” sebagai bagian dari komitmen perusahaan terhadap praktik hilirisasi pertambangan yang bertanggung jawab. Publikasi ini disiapkan bukan sekadar sebagai dokumentasi visual, melainkan potret ilmiah yang merekam kesehatan ekosistem perairan di tengah aktivitas industri di Pulau Obi.
Saat ini, buku tersebut tengah memasuki tahap akhir persiapan cetak dan direncanakan diterbitkan oleh penerbit nasional terkemuka. Harita Nickel menargetkan buku ini dapat resmi dirilis pada pertengahan tahun 2026.
Buku yang disusun oleh tim Marine Environment Harita Nickel ini merangkum hasil pengamatan mendalam selama beberapa tahun terhadap puluhan famili ikan karang. Kehadiran berbagai spesies indikator di dalamnya menjadi parameter penting bahwa perairan Pulau Obi, Maluku Utara, masih menjalankan fungsi ekologisnya dengan baik sebagai habitat berbagai biota laut.
Di antara spesies yang terdokumentasi, terdapat ikan napoleon yang berstatus dilindungi, serta ikan kakatua yang dikenal memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem terumbu karang. Kehadiran kedua spesies tersebut menjadi indikator bahwa ekosistem laut di wilayah pesisir barat Pulau Obi masih berada dalam kondisi sehat.
Selain itu, buku ini juga merekam keberadaan sejumlah ikan ekonomis penting, seperti kerapu dan bobara (giant trevally), yang selama ini menjadi sumber penghidupan nelayan dan masyarakat pesisir. Keberadaan spesies-spesies tersebut menunjukkan bahwa ekosistem laut yang terjaga turut mendukung keberlanjutan aktivitas nelayan lokal.
Direktur Health, Safety, and Environment (HSE) Harita Nickel, Tonny Gultom, mengatakan rencana penerbitan buku ini merupakan bagian dari upaya perusahaan memperkuat transparansi dan dokumentasi ilmiah terhadap kondisi lingkungan di sekitar wilayah operasional.
“Bagi kami, tanggung jawab lingkungan tidak boleh berhenti pada kepatuhan terhadap peraturan saja melainkan bagaimana ikut serta dalam menjaga lingkungan. Kami ingin mengenali, mencatat, dan menjaga kekayaan alam yang ada di depan mata kita,” ujar Tonny.
Ia menambahkan, dokumentasi ini akan terus dikembangkan menjadi seri berkelanjutan, dengan fokus berikutnya pada ekosistem terumbu karang dan makrobenthos.
Menurut Tonny, inisiatif tersebut mencerminkan pendekatan perusahaan dalam menjalankan hilirisasi yang tidak hanya berorientasi pada pertumbuhan industri, tetapi juga memperhatikan aspek pelestarian lingkungan dan keberlanjutan ekosistem pesisir.
“Keberlanjutan operasional harus berjalan seiring dengan upaya menjaga biodiversitas. Karena itu, data ilmiah dan pemantauan lingkungan menjadi fondasi penting dalam praktik pertambangan yang bertanggung jawab,” katanya.
Rencana penerbitan buku ini juga mendapat respons positif dari Bupati Halmahera Selatan, Hasan Ali Bassam Kasuba. Menurutnya, publikasi tersebut dapat menjadi kontribusi penting dalam memperkaya literasi lingkungan sekaligus memperkenalkan potensi bahari Halmahera Selatan kepada masyarakat luas.
“Kolaborasi sinergis antara pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat adalah kunci. Kita perlu terus memperkuat harmoni ini demi menjaga laut kita sekaligus memastikan pembangunan daerah berjalan berkelanjutan,” tutur Bassam.
Sisi akademis pun memberikan catatan positif. Guru Besar Manajemen Kesehatan Ikan Universitas Khairun, Prof. Dr. Muh. Aris, S.Pi., M.P., menilai langkah ini sebagai bentuk konkret penerapan Good Mining Practices.
“Kualitas pertambangan yang baik diuji dari kemampuannya menjaga keberlangsungan hidup biota di sekitarnya. Harita Nickel menunjukkan bahwa operasional tambang dan pemulihan ekosistem pesisir bisa berjalan beriringan,” jelasnya.
Senada dengan hal itu, Ahli Genetika Ikan Universitas Sam Ratulangi, Dr. Ir. Ari Berty Rondonuwu, M.Sc., M.Si., menekankan pentingnya aspek edukasi bagi masyarakat lokal. Ia melihat buku ini dapat menjadi jembatan yang menghubungkan data ilmiah dengan pemahaman publik mengenai kekayaan hayati laut Obi.
“Saat anak-anak di Pulau Obi mulai bisa menyapa nama dan mengenali rupa ikan di halaman rumah mereka sendiri, di situlah benih rasa memiliki dan kesadaran menjaga alam tumbuh paling kuat,” kata Ari.
Rencana peluncuran buku ini melengkapi berbagai program keberlanjutan Harita Nickel yang telah berjalan, mulai dari rehabilitasi mangrove, transplantasi karang, hingga instalasi terumbu buatan (artificial reef). Melalui transparansi data dan kolaborasi lintas sektor, Harita Nickel terus mendorong praktik pertambangan yang bertanggung jawab terhadap masa depan ekosistem laut Indonesia.
Cuplikan dari buku Ikan Karang bisa diakses melalui link ini