MABA- PT Feni Haltim (FHT) selaku pengelola Kawasan Industri Buli menyelenggarakan kegiatan Media Gathering dengan tema “Mengenal Kawasan Industri Buli dan FHT” pada 29–30 September 2026 di Ternate, Maluku Utara.
Kegiatan ini menjadi ruang komunikasi dan dialog antara perusahaan dengan insan media untuk memperkenalkan profil perusahaan, arah pengembangan Kawasan Industri Buli, serta komitmen FHT dalam mendorong pembangunan industri yang terintegrasi, inklusif, dan berkelanjutan.
Kegiatan ini menghadirkan Direktur Sumber Daya Manusia (Ready Advancer) dan Manager External Relations & CSR PT Feni Haltim, Subawarwan Sakoy, sebagai pembicara yang menyampaikan berbagai informasi mengenai perusahaan, pengembangan kawasan industri, serta pendekatan tanggung jawab sosial dan lingkungan perusahaan.
Acara ini juga merupakan bagian dari kegiatan rutin Perusahaan lingkar tambang ANTAM Group (FHT, SDA dan NKA) yang berada di daerah Halmahera Timur.
Dalam pemaparannya, Bapak Ready Advancer menjelaskan bahwa PT Feni Haltim merupakan perusahaan patungan antara PT ANTAM Tbk dan Hongkong CBL yang bergerak di bidang kawasan industri, jasa kepelabuhanan melalui terminal khusus, serta industri pengolahan logam dasar bukan besi. Keberadaan FHT merupakan bagian dari upaya pengembangan ekosistem industri terintegrasi yang berorientasi pada hilirisasi nikel dan rantai industri baterai kendaraan listrik (Electric Vehicle/EV Battery).
Lebih lanjut, pengembangan Kawasan Industri Buli melalui Project Dragon diarahkan untuk membangun ekosistem industri hilirisasi nikel yang terintegrasi, sekaligus mendukung visi pengembangan rantai industri baterai kendaraan listrik di Indonesia. Melalui pengembangan tersebut, FHT berupaya menciptakan nilai tambah dari sumber daya alam melalui kegiatan industri yang terencana dan memperhatikan aspek sosial, ekonomi, serta lingkungan.
Selain membahas aspek pengembangan industri, kegiatan Media Gathering juga mengangkat pentingnya keterlibatan masyarakat lokal sebagai bagian dari pembangunan kawasan. Dalam sesi pemaparan, Subarwan Sakoy menyampaikan bahwa FHT telah menyusun arah strategis program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL/CSR) melalui Roadmap CSR 2026–2030 yang berfokus pada lima pilar utama, yaitu pendidikan dan pengembangan keterampilan, pengembangan ekonomi lokal, lingkungan dan keberlanjutan, kesehatan dan kesejahteraan, serta tata kelola sosial dan harmoni.
Program-program tersebut dirancang untuk mendukung peningkatan kapasitas masyarakat, memperluas peluang ekonomi lokal, serta membangun hubungan yang harmonis antara perusahaan dan masyarakat di sekitar wilayah operasional. Beberapa inisiatif yang menjadi perhatian antara lain pengembangan pendidikan vokasi, peningkatan kapasitas UMKM, pengembangan sektor pertanian dan perikanan, konservasi lingkungan, serta peningkatan akses dan kesadaran kesehatan masyarakat.
Pendekatan tersebut mencerminkan komitmen FHT untuk menempatkan pembangunan masyarakat sebagai bagian penting dari pengembangan kawasan industri. Dengan demikian, pertumbuhan industri diharapkan dapat berjalan seiring dengan peningkatan kualitas sumber daya manusia dan kesejahteraan masyarakat setempat.
Melalui kegiatan ini, FHT juga berharap dapat membangun komunikasi yang terbuka dan konstruktif dengan media sebagai salah satu pemangku kepentingan penting dalam penyampaian informasi kepada publik. Perusahaan memahami bahwa media memiliki peran strategis dalam menyampaikan perkembangan industri secara informatif, berimbang, dan berdasarkan fakta.
Media Gathering ini menjadi bagian dari upaya FHT untuk memperkenalkan lebih dekat keberadaan dan peran perusahaan dalam pengembangan Kawasan Industri Buli, sekaligus membuka ruang dialog mengenai peluang, tantangan, dan kontribusi pengembangan industri terhadap pembangunan daerah.
PT Feni Haltim (PT FHT) merupakan pengembang dan pengelola Kawasan Industri Buli yang berlokasi di Kabupaten Halmahera Timur, Provinsi Maluku Utara, Indonesia. PT FHT merupakan perusahaan joint venture antara HKCBL dan PT Aneka Tambang Tbk (ANTAM). Kawasan industri ini dikembangkan sebagai pusat pengolahan hilirisasi nikel terintegrasi yang berlandaskan prinsip Tata Kelola Perusahaan yang Baik (Good Corporate Governance/GCG), kepedulian terhadap lingkungan, serta pemberdayaan masyarakat lokal. (Red)